
Carlos Queiroz tidak akan melanjutkan perjalanannya memimpin Black Stars. Usai tersingkirnya Ghana di babak 16 besar, mantan pelatih beberapa timnas itu resmi mengumumkan kepergiannya. Ditunjuk hanya dua bulan sebelum Piala Dunia 2026 sebagai langkah darurat, ahli taktik asal Portugal itu diharapkan bisa memimpin tim ke perempat final.
Carlos Queiroz telah menandatangani kontrak berdurasi empat bulan dengan tim nasional Ghana pada April lalu, dengan opsi perpanjangan jika tim tersebut mencapai perempat final Piala Dunia. Tersingkir di babak 16 besar, Black Stars gagal mencapai tujuan tersebut, sehingga mengakhiri kerja sama ini.
Dalam pesan perpisahannya, pelatih berusia 73 tahun itu mengatakan dia meninggalkan Ghana “dengan bangga,” percaya bahwa timnya telah “memulihkan rasa hormat dan kredibilitas” terhadap Black Stars di panggung dunia.
Pesan yang kuat untuk masa depan sepakbola Ghana
Sebelum berangkat, Carlos Queiroz menyampaikan pidatonya kepada pejabat sepak bola Ghana. Menurutnya, kesuksesan Black Stars di masa depan akan bergantung pada organisasi dan penampilan di lapangan.
“Masa depan Black Stars tidak akan dibangun hanya di lapangan. Kesuksesan harus dimulai di luar lapangan, dengan menciptakan lingkungan terbaik untuk mempersiapkan, melindungi, dan mengembangkan bakat sepak bola Ghana yang luar biasa.”
Kontraknya resmi berakhir pada 31 Juli 2026 dan tidak diperpanjang.
CARLOS QUEIROZ MENINGGALKAN GHANACarlos Queiroz (73) telah secara resmi mengucapkan selamat tinggal kepada Ghana setelah mengonfirmasi bahwa dia tidak akan memperbarui kontrak jangka pendeknya sebagai pelatih kepala @GhanaBlackstars menyusul tersingkirnya tim dari Piala Dunia FIFA 2026. Ahli taktik asal Portugal itu menandatangani kontrak berdurasi empat bulan… pic.twitter.com/r3uvry0mFT
— Nuhu Adams (@_NuhuAdams) 5 Juli 2026
Piala Dunia 2026
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi paling revolusioner dalam sejarah sepak bola dunia. Turnamen ini untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, jumlah peserta juga meningkat dari 32 menjadi 48 tim, membuka peluang lebih besar bagi negara-negara dari berbagai konfederasi untuk tampil di panggung global. Format baru ini akan menghadirkan lebih banyak pertandingan, atmosfer kompetisi yang lebih luas, serta jangkauan penonton yang semakin besar di seluruh dunia.
Dengan skala yang jauh lebih besar, FIFA menargetkan turnamen ini sebagai ajang yang tidak hanya kompetitif tetapi juga spektakuler dari sisi teknologi dan pengalaman penonton. Stadion-stadion modern di berbagai kota tuan rumah telah dipersiapkan untuk menghadirkan pertandingan berkelas dunia, didukung oleh inovasi seperti peningkatan sistem VAR dan pengalaman digital bagi fans. diprediksi akan menjadi tonggak baru dalam evolusi sepak bola internasional, memperkuat popularitas olahraga ini sekaligus menciptakan momen-momen bersejarah yang akan dikenang dalam waktu lama.
