
Gelandang serang Kongo Gaël Kakuta berbicara dengan tenang tentang kemungkinan berpartisipasi di Piala Dunia 2026 bersama Republik Demokratik Kongo. Dalam sebuah wawancara dengan Capté, pemain berusia 33 tahun ini menunjukkan pendekatan yang jernih, menyerahkan keputusan akhir kepada pelatih sambil menegaskan kesiapannya.
Gaël Kakuta mengambil pendekatan terukur terkait potensi panggilan Piala Dunia 2026. Sadar akan ketatnya persaingan dalam skuad Sébastien Desabre, sang pemain lebih memilih untuk menyerahkan keputusan akhir kepada staf teknis.
“Jika saya layak dipanggil, saya akan melakukannya. Jika tidak, itu bukan masalah besar. Saya akan mendukung rekan satu tim saya seperti biasa. Keputusan ada di tangan pelatih, tetapi Anda harus selalu menunjukkan bahwa Anda siap. Dia memanggil saya untuk AFCON dan saya mampu memenuhi tuntutan tersebut.”
Pernyataan ini mencerminkan pengalamannya dan sikapnya yang tenang mengenai persaingan memperebutkan tempat tim nasional saat ini. Kakuta juga mengingat kembali tugasnya baru-baru ini di Piala Afrika, di mana ia dimasukkan sebagai penguat dan berhasil berperan sebagai pendukung.
🎙️ [𝑫𝒆𝒄𝒍𝒂𝒓𝒂𝒕𝒊𝒐𝒏] Gaël Kakuta CHECK🇩 🐆 menjelaskan sendiri tentang kemungkinan panggilannya ke Piala Dunia 2026 dalam sebuah wawancara dengan Capté 🎤#RDC | #Kongo | #LeopardLeaderFoot pic.twitter.com/fNta5cpkop
— Kaki Pemimpin Macan Tutul (@leopard243) 11 Mei 2026
Dari sisi kepelatihan, manajer Sébastien Desabre saat ini lebih memilih tim yang lebih muda dan dinamis sebagai bagian dari pembangunan kembali skuad Kongo menjelang turnamen internasional besar mendatang. Kakuta tidak termasuk dalam pilihan pertama, namun ia tetap dipertimbangkan karena pengalaman dan kreativitasnya.
Dengan hanya satu bulan tersisa sebelum Piala Dunia 2026, sang veteran tetap siap—tanpa memaksa, namun juga tanpa menutup pintu.
Piala Dunia 2026
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi paling revolusioner dalam sejarah sepak bola dunia. Turnamen ini untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, jumlah peserta juga meningkat dari 32 menjadi 48 tim, membuka peluang lebih besar bagi negara-negara dari berbagai konfederasi untuk tampil di panggung global. Format baru ini akan menghadirkan lebih banyak pertandingan, atmosfer kompetisi yang lebih luas, serta jangkauan penonton yang semakin besar di seluruh dunia.
Dengan skala yang jauh lebih besar, FIFA menargetkan turnamen ini sebagai ajang yang tidak hanya kompetitif tetapi juga spektakuler dari sisi teknologi dan pengalaman penonton. Stadion-stadion modern di berbagai kota tuan rumah telah dipersiapkan untuk menghadirkan pertandingan berkelas dunia, didukung oleh inovasi seperti peningkatan sistem VAR dan pengalaman digital bagi fans. diprediksi akan menjadi tonggak baru dalam evolusi sepak bola internasional, memperkuat popularitas olahraga ini sekaligus menciptakan momen-momen bersejarah yang akan dikenang dalam waktu lama.
